Sabtu, 15 Agustus 2015

[049] Al Hujurat Ayat 007

««•»»

D O N A S I

Infak Al-Qura'nul Karim

“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.”
(QS. Al Baqarah: 265)

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
(QS. Al Baqarah: 274)

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, Rasulullah saw bersabda: "Di setiap pagi hari yang dilalui oleh seorang hamba, pasti ada dua malaikat yang turun. Salah satunya berkata, "Ya Allah, berikanlah pengganti kepada orang yang berinfak." Malaikat yang kedua berkata,"Ya Allah, berikanlah kehancuran kepada orang yang menahan hartanya." (Mutafaq 'alaih)

Rekening:
Bank BNI46
Nomor Rekening:
0359318764
an
Bpk BAMBANG SUTOPO

Bukti infak bisa disampaikan melalui:
e-mail: arekcidoardjo@gmail.com
SMS : 0812 5959 9585

Infak kaum Muslimin akan dipergunakan seutuhnya untuk membiayai operasional blogsite Al-Quranul Karim. Laporan secara berkala akan disampaikan melalui email kepada para muhsinin.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
[AYAT 6][AYAT 8]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
7of18
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=49&tAyahNo=7&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#49:7

Minggu, 28 Juni 2015

[049] Al Hujurat Ayat 006

««•»»
Surah Al Hujuraat 6

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
««•»»
yaa ayyuhaa alladziina aamanuu in jaa-akum faasiqun binaba-in fatabayyanuu an tushiibuu qawman bijahaalatin fatushbihuu 'alaa maa fa'altum naadimiina
««•»»
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.
««•»»
O you who have faith! If a profligate [person] should bring you some news, verify it, lest you should visit [harm] on some people out of ignorance, and then become regretful for what you have done.
««•»»

Dalam ayat ini Allah SWT memberikan peringatan kepada kaum Mukminin, jika datang kepada mereka seorang fasik membawa berita apa saja, supaya mereka jangan segera menerima berita itu sebelum diperiksa dan diteliti dahulu kebenarannya. Sebelum diadakan penelitian yang seksama, jangan lekas percaya kepada berita dari orang fasik itu karena seorang yang tidak mempedulikan kefasikannya, tentu tidak akan mempedulikan pula kedustaan berita yang disampaikannya. Perlunya berhati-hati dalam menerima sembarangan berita ialah tindakan yang timbul karena berita bohong itu. Penyesalan yang akan timbul sebenarnya dapat dihindari jika bersikap lebih hati-hati.

Diriwayatkan oleh Ibnu 'Abbas ra bahwa ayat ke enam ini diturunkan karena peristiwa Al Walid bin Uqbah bin Abi Muit yang diutus oleh Rasulullah saw kepada Qabilah Bani Mustaliq untuk memungut zakat dari mereka. Tatkala berita itu sampai kepada Bani Mustaliq, akan datang seorang utusan dari Rasulullah saw untuk memungut zakat dari mereka, mereka gembira sekali sehingga mereka beramai-ramai keluar dari kampung halaman mereka untuk menjemput kedatangan utusan itu. Ada seorang munafik memberitahukan kepada Al Walid yang sedang dalam perjalanan menuju Bani Mustaliq itu bahwa mereka telah murtad, menolak dan tidak mau membayar zakat bahkan mereka itu telah mengadakan demonstrasi dan berhimpun di luar kota untuk mencegat kedatangannya. Setelah Al Walid menerima berita itu dari seorang munafik tersebut, maka segera ia kembali ke Madinah dan melaporkan keadaan Bani Mustaliq kepada Rasulullah saw. Beliau sangat marah mendengar berita yang buruk itu dan menyiapkan sepasukan tentara untuk menghadapi orang-orang dari Qabilah Bani Mustaliq yang membangkang itu.

Belum lagi, tentara itu diberangkatkan, sudah datang utusan dari Bani Mustaliq menghadap kepada Rasulullah saw seraya berkata: "Ya Rasulullah, kedatangan kami ke sini adalah untuk bertanya mengapa utusan Rasulullah tidak sampai kepada kami untuk memungut zakat, bahkan kembali dari tengah perjalanan?. Kami mempunyai dugaan bahwa timbul salah pengertian di antara utusan Paduka dengan kami, yang menyebabkan timbulnya keruwetan ini." Maka turunlah ayat ini, yang memberikan pedoman kepada sekalian kaum mukminin supaya berhati-hati dalam menerima berita, terutama jika bersumber dari seorang yang fasik, supaya diadakan penelitian dahulu menurut maksud berita itu. Sebelum diselidiki kebenarannya, besar kemungkinan akan membawa korban jiwa dan harta yang sia-sia, yang hanya menimbulkan penyesalan belaka.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Hai orang-orang yang beriman! Jika datang kepada kalian orang fasik membawa suatu berita) (maka periksalah oleh kalian) kebenaran beritanya itu, apakah ia benar atau berdusta. Menurut suatu qiraat dibaca Fatatsabbatuu berasal dari lafal Ats-Tsabaat, artinya telitilah terlebih dahulu kebenarannya (agar kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum) menjadi Maf'ul dari lafal Fatabayyanuu, yakni dikhawatirkan hal tersebut akan menimpa musibah kepada suatu kaum (tanpa mengetahui keadaannya) menjadi Hal atau kata keterangan keadaan dari Fa'il, yakni tanpa sepengetahuannya (yang menyebabkan kalian) membuat kalian (atas perbuatan kalian itu) yakni berbuat kekeliruan terhadap kaum tersebut (menyesal) selanjutnya Rasulullah saw. mengutus Khalid kepada mereka sesudah mereka kembali ke negerinya. Ternyata Khalid tiada menjumpai mereka melainkan hanya ketaatan dan kebaikan belaka, lalu ia menceritakan hal tersebut kepada Nabi saw.
««•»»
The following was revealed regarding al-Walīd b. ‘Uqba whom the Prophet had sent to the Banū al-Mustaliq in order to ascertain [their loyalty to Islam]. He already feared them on account of an old feud between him and them from the time of pagandom [before Islam], and so [upon seeing them come out to him] he returned and claimed that they had refused to give the voluntary alms and intended to kill him. And just as the Prophet (s) was making plans to raid them, they came to him to disavow what he [al-Walīd] had said about them: O you who believe, if a reprobate should come to you with some tiding, some piece of information, verify [it], [ascertain] his truthfulness from his mendacity (fa-tabayyanū: a variant reading has fa-tathabbatū, from al-thabāt, ‘to ascertain’), lest you injure a folk (an tusībū qawman, an object denoting reason), that is to say, for fear of this [happening], out of ignorance (bi-jahālatin is a circumstantial qualifier referring to the subject [of the verb]), that is to say while you are ignorant; and then become remorseful of what you have perpetrated, erroneously against that folk. After they had returned to their homelands, the Prophet (s) sent Khālid [b. al-Walīd] to them, who observed only obedience and goodness in them and [later] informed the Prophet of this.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»klik ASBABUN NUZUL klik
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

Imam Ahmad dan lain-lainnya mengetengahkan sebuah hadis dengan sanad yang Jayyid melalui Harits bin Dharar Al Khuza'i yang telah menceritakan, "Aku datang menghadap kepada Rasulullah saw. lalu beliau mengajakku masuk Islam, lalu aku menyatakan diri masuk Islam di hadapannya. Dan beliau menyeruku untuk mengeluarkan zakat, maka aku berikrar kepadanya akan mengeluarkan zakat, lalu aku berkata, 'Wahai Rasulullah! Bolehkah aku kembali kepada kaumku, aku akan ajak mereka masuk Islam dan menunaikan zakat. Maka barang siapa yang memperkenankan hal itu aku akan mengumpulkan harta zakatnya, lalu engkau mengirimkan utusanmu kepadaku dalam jangka waktu yang cukup supaya orang tersebut dapat membawa semua harta zakat yang telah aku kumpulkan kepadamu.'"
Setelah Harits berhasil mengumpulkan harta zakat kaumnya, waktu yang telah dijanjikan telah tiba, ternyata Rasulullah saw tidak mengirimkan utusannya. Setelah ditunggu-tunggu ternyata tidak juga muncul, maka Harits menduga bahwa Rasulullah saw. marah terhadap dirinya; lalu ia mengumpulkan semua orang-orang kaya kaumnya, dan berkata kepada mereka, "Sesungguhnya Rasulullah saw. dulu telah menentukan waktu untuk mengirimkan utusan kepadaku supaya mengambil zakat yang berhasil aku kumpulkan ini. Aku yakin bahwa Rasulullah tidak akan menyalahi janjinya, menurut dugaanku tiada yang menghalangi beliau untuk datang kepadaku melainkan beliau marah kepadaku. Maka sekarang marilah kita berangkat untuk menyerahkannya langsung kepada Rasulullah saw." Pada saat bersamaan Rasulullah saw. mengirim Walid bin Uqbah untuk mengambil harta zakat yang ada pada Harits. Hanya saja ketika Walid sampai di tengah jalan, ia kembali lagi menghadap Rasulullah saw. dan melapor, "Sesungguhnya Harits menolak untuk membayarkan zakatnya kepadaku, bahkan dia hampir saja membunuhku."
Maka Rasulullah saw. kembali membentuk utusannya yang baru untuk dikirimkan kepada Harits. Tetapi ketika para utusan itu baru keluar dari Rasulullah, tiba-tiba datanglah Harits bersama dengan teman-temannya dan berpapasan dengan para utusan itu. Lalu Harits bertanya kepada mereka, "Hendak ke manakah kalian diutus?" Mereka menjawab, "Kami diutus untuk menemuimu." Harits kembali bertanya, "Mengapa?" Mereka berkata, "Sesungguhnya Rasulullah saw. telah mengutus kepadamu Walid bin Uqbah, lalu ia melaporkan bahwa kamu tidak mau membayar zakat kepadanya dan bahkan kamu hendak membunuhnya." Harits berkata, "Tidak, demi Allah yang telah mengutus Muhammad dengan membawa perkara yang hak, aku tidak pernah melihatnya dan belum pernah pula aku kedatangan dia." Ketika Harits datang menghadap Rasulullah saw. lalu Rasulullah saw. berkata kepadanya, "Kamu tidak mau membayar zakat, dan bahkan kamu bermaksud untuk membunuh utusanku." Harits menjawab, "Tidak, demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan membawa perkara yang hak."
Maka ketika itu juga turunlah firman-Nya, "Hai orang-orang yang beriman! Jika datang kepada kalian orang fasik membawa suatu berita..." (Q.S. Al Hujurat, 6) sampai dengan firman-Nya, "Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (Q.S. Al Hujurat, 8) Rijal (para perawi) hadis ini semuanya terdiri dari orang-orang yang tsiqah (dapat dipercaya). Imam Thabrani telah mengetengahkan pula hadis yang serupa melalui hadis Jabir bin Abdullah, Alqamah bin Najiyah dan Umu Salamah. Ibnu Jarir mengetengahkan pula hadis serupa melalui jalur Al Aufi yang bersumber dari Ibnu Abbas r.a. Sebagaimana Ibnu Jarir pun mengetengahkan pula hadis yang sama melalui jalur-jalur lainnya dengan predikat Mursal.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
[AYAT 5][AYAT 7]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
5of18
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=49&tAyahNo=6&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#49:5

Selasa, 26 Mei 2015

[049] Al Hujurat Ayat 005

««•»»
Surah Al Hujuraat 5

وَلَوْ أَنَّهُمْ صَبَرُوا حَتَّى تَخْرُجَ إِلَيْهِمْ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
««•»»
walaw annahum shabaruu hattaa takhruja ilayhim lakaana khayran lahum waallaahu ghafuurun rahiimun
««•»»
Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka sesungguhnya itu lebih baik bagi mereka, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
««•»»
Had they been patient until you came out for them, it would have been better for them, and Allah is all-forgiving, all-merciful.
««•»»

Seandainya tamu-tamu delegasi itu tidak berteriak-teriak memanggil Nabi Muhammad saw, mereka sabar menunggu sampai beliau sendiri keluar kamar peristirahatannya, niscaya yang. demikian itu lebih baik bagi mereka karena sikap demikian itu menunjukkan adanya takzim dan penghormatan kepada Nabi Muhammad saw. Dan Allah Maha Pengampun kepada mereka yang memanggil Nabi Muhammad saw. dari belakang kamar-kamarnya bila mereka bertobat dan mengganti kecerobohan mereka dengan kesopanan dan tata krama, dan Maha Penyayang kepada mereka, tidak mengazab mereka nanti pada Hari Kiamat karena mereka telah menyesali perbuatan mereka yang memalukan itu.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dan kalau sekiranya mereka bersabar) lafal Annahum berada dalam Mahall Rafa' sebagai Mubtada. Tetapi menurut pendapat lain menjadi Fa'il dari Fi'il yang diperkirakan keberadaannya, yaitu lafal Tsabata (sampai kamu keluar menemui mereka, sesungguhnya itu adalah lebih baik bagi mereka, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang") kepada orang yang bertobat di antara mereka. Ayat berikut ini diturunkan berkenaan dengan Walid bin Uqbah. Ia telah diutus oleh Nabi saw. ke Bani Mushthaliq untuk menarik zakat, tetapi ia merasa takut terhadap mereka, karena dahulu di masa jahiliah ia bermusuhan dengan mereka. Akhirnya di tengah perjalanan ia kembali lagi seraya melaporkan, bahwa mereka tidak mau membayar zakat dan bahkan mereka hampir saja membunuhnya. Karena itu hampir saja Nabi saw. bermaksud untuk memerangi mereka, hanya karena mereka keburu datang menghadap Nabi saw. seraya mengingkari apa yang telah dikatakan oleh Walid mengenai mereka.
««•»»
And had they been patient (annahum, ‘they’, has independent status, on account of inceptiveness; alternatively, it is said to govern an implied verb such as thabata, ‘had [their patience] been maintained’) until you came out to them, it would have been better for them; and God is Forgiving, Merciful, to those of them who repent.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
klik ASBABUN NUZUL klik
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

Imam Ibnu Jarir dan lain-lainnya mengetengahkan sebuah hadis yang juga melalui Aqra' bin Habis, bahwasanya ia datang kepada Nabi saw. lalu berkata, "Hai Muhammad! Keluarlah untuk menemui kami."

Maka turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya,
"Hai orang-orang yang beriman! Jika datang kepada, kalian orang fasik..."
(QS. Al Hujurat [49]:6)

Imam Ahmad dan lain-lainnya mengetengahkan sebuah hadis dengan sanad yang Jayyid melalui Harits bin Dharar Al Khuza'i yang telah menceritakan, "Aku datang menghadap kepada Rasulullah saw. lalu beliau mengajakku masuk Islam, lalu aku menyatakan diri masuk Islam di hadapannya.

Dan beliau menyeruku untuk mengeluarkan zakat, maka aku berikrar kepadanya akan mengeluarkan zakat, lalu aku berkata, 'Wahai Rasulullah! Bolehkah aku kembali kepada kaumku, aku akan ajak mereka masuk Islam dan menunaikan zakat. Maka barang siapa yang memperkenankan hal itu aku akan mengumpulkan harta zakatnya, lalu engkau mengirimkan utusanmu kepadaku dalam jangka waktu yang cukup supaya orang tersebut dapat membawa semua harta zakat yang telah aku kumpulkan kepadamu.'"

Setelah Harits berhasil mengumpulkan harta zakat kaumnya, waktu yang telah dijanjikan telah tiba, ternyata Rasulullah saw tidak mengirimkan utusannya. Setelah ditunggu-tunggu ternyata tidak juga muncul, maka Harits menduga bahwa Rasulullah saw. marah terhadap dirinya; lalu ia mengumpulkan semua orang-orang kaya kaumnya, dan berkata kepada mereka, "Sesungguhnya Rasulullah saw. dulu telah menentukan waktu untuk mengirimkan utusan kepadaku supaya mengambil zakat yang berhasil aku kumpulkan ini. Aku yakin bahwa Rasulullah tidak akan menyalahi janjinya, menurut dugaanku tiada yang menghalangi beliau untuk datang kepadaku melainkan beliau marah kepadaku. Maka sekarang marilah kita berangkat untuk menyerahkannya langsung kepada Rasulullah saw."

Pada saat bersamaan Rasulullah saw. mengirim Walid bin Uqbah untuk mengambil harta zakat yang ada pada Harits. Hanya saja ketika Walid sampai di tengah jalan, ia kembali lagi menghadap Rasulullah saw. dan melapor, "Sesungguhnya Harits menolak untuk membayarkan zakatnya kepadaku, bahkan dia hampir saja membunuhku." Maka Rasulullah saw. kembali membentuk utusannya yang baru untuk dikirimkan kepada Harits. Tetapi ketika para utusan itu baru keluar dari Rasulullah, tiba-tiba datanglah Harits bersama dengan teman-temannya dan berpapasan dengan para utusan itu.

Lalu Harits bertanya kepada mereka, "Hendak ke manakah kalian diutus?" Mereka menjawab, "Kami diutus untuk menemuimu." Harits kembali bertanya, "Mengapa?" Mereka berkata, "Sesungguhnya Rasulullah saw. telah mengutus kepadamu Walid bin Uqbah, lalu ia melaporkan bahwa kamu tidak mau membayar zakat kepadanya dan bahkan kamu hendak membunuhnya."

Harits berkata, "Tidak, demi Allah yang telah mengutus Muhammad dengan membawa perkara yang hak, aku tidak pernah melihatnya dan belum pernah pula aku kedatangan dia." Ketika Harits datang menghadap Rasulullah saw. lalu Rasulullah saw. berkata kepadanya, "Kamu tidak mau membayar zakat, dan bahkan kamu bermaksud untuk membunuh utusanku." Harits menjawab, "Tidak, demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan membawa perkara yang hak."

Maka ketika itu juga turunlah firman-Nya,
"Hai orang-orang yang beriman! Jika datang kepada kalian orang fasik membawa suatu berita..."
(QS. Al Hujurat [49]:6)
sampai dengan firman-Nya,
"Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."
(QS. Al Hujurat [49]:8)

Rijal (para perawi) hadis ini semuanya terdiri dari orang-orang yang tsiqah (dapat dipercaya). Imam Thabrani telah mengetengahkan pula hadis yang serupa melalui hadis Jabir bin Abdullah, Alqamah bin Najiyah dan Umu Salamah. Ibnu Jarir mengetengahkan pula hadis serupa melalui jalur Al Aufi yang bersumber dari Ibnu Abbas r.a. Sebagaimana Ibnu Jarir pun mengetengahkan pula hadis yang sama melalui jalur-jalur lainnya dengan predikat Mursal.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
[AYAT 4][AYAT 6]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
5of18
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=49&tAyahNo=5&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#49:5

Sabtu, 25 April 2015

[049] Al Hujurat Ayat 004

««•»»
Surah Al Hujuraat 4

إِنَّ الَّذِينَ يُنَادُونَكَ مِنْ وَرَاءِ الْحُجُرَاتِ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ
««•»»
inna alladziina yunaaduunaka min waraa-i alhujuraati aktsaruhum laa ya'qiluuna
««•»»
Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar(mu) kebanyakan mereka tidak mengerti.
««•»»
Indeed those who call you from behind the apartments, most of them do not apply reason.
««•»»

Dalam ayat ini Allah SWT. memberikan pelajaran kesopanan dan tata krama dalam menghadapi Rasulullah saw. terutama dalam mengadakan percakapan dengan beliau. Rasulullah saw. selama di Madinah tinggal di sebuah rumah di samping mesjid Madinah. Dalam rumah itu terdapat beberapa buah kamar. Kamar-kamar itu, yang Sesuai dengan kalimat Hujurat, semuanya ada sembilan buah dan masing-masing diisi oleh seorang istri Nabi. Dibuatnya sangat sederhana; atapnya rendah sekali sehingga mudah disentuh oleh tangan dan pintu-pintunya terdiri dari gantungan kulit binatang yang berbulu. Pada masa Khalifah Al Walid bin Abdul Malik, kamar-kamar itu dibongkar dan dimasukkan ke dalam mesjid: hal itu sangat menyedihkan kaum mukminin di Madinah, malah Said bin Musayyab berkata demikian, "Saya suka sekali jika kamar-kamar istri Nabi itu tetap saja tidak dirombak, agar supaya generasi baru dari penduduk Madinah dan orang-orang mendatang dapat mengambil teladan tentang kesederhanaan Nabi Muhammad saw. dalam mengatur rumah tangganya.

Ibnu Ishak menerangkan dalam kitab tarikhnya bahwa tahun kesembilan hijrah itu merupakan tahun mengalirnya para delegasi dari seluruh jazirah Arab setelah futuh Mekah, selesainya perang Tabuk dan Kabilah Saqif dari Taif masuk Islam dan berbaiat kepada Rasulullah saw., maka datanglah dengan berduyun-duyun berbagai delegasi ke Madinah untuk menemui Rasulullah saw.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari zaid bin Arqam bahwa sekumpulan orang-orang Badui berkata kepada kawan-kawannya: "Marilah kita menemui laki-laki (Muhammad) itu; apabila ia benar-benar seorang Nabi, maka kitalah yang paling bahagia beserta dia, dan jika ia seorang raja maka kitapun akan beruntung dapat hidup di sampingnya".

Maka datanglah Zaid bin Arqam kepada Rasulullah saw. menyampaikan berita itu lalu datanglah mereka beramai-ramai kepada Rasulullah saw. yang kebetulan sedang berada di kamar salah seorang istrinya. Mereka memanggil dengan suara yang lantang sekali, "Ya Muhammad, ya Muhammad keluarlah dari kamarmu untuk berjumpa dengan kami karena tujuan kami sangat indah dan celaan kami sangat menusuk perasaan". Nabi Muhammad saw. keluar dari kamar istrinya untuk menemui mereka dan turunlah ayat ini. Menurut Qatadah, rombongan sebanyak tujuh puluh orang itu adalah dari kabilah Bani Tamim.

Mereka berkata, "Kami ini dari Bani Tamim, kami datang ke sini membawa pujangga-pujangga kami dalam bidang syair dan pidato untuk bertanding dengan penyair-penyair. kamu". Dijawab oleh Nabi, "Kami tidak diutus untuk mengemukakan syair dan kami tidak diutus untuk memperlihatkan kesombongan, tetapi bila kamu mau mencoba, boleh kemukakan syairmu itu". Maka tampillah seorang pemuda dari antara mereka membangga-banggakan kaumnya dengan berbagai keutamaan.

Nabi Muhammad saw. menampilkan Hassan bin Sabit untuk menjawab syair mereka dan ternyata Hassan dapat menundukkan mereka semuanya. Setelah mereka mengakui keunggulan Sabit, lalu mereka mendekati Rasulullah saw. dan mengucapkan dua kalimat syahadat dan sekaligus masuk Islam.

Kebijaksanaan Nabi Muhammad saw dalam menghadapi delegasi dari Bani Tamim yang tidak sopan itu akhirnya berkesudahan dengan baik dan sebelum pulang ke negeri mereka, mereka lebih dahulu sudah mendapat petunjuk tentang jalan yang benar dan kesopanan dalam pergaulan. Dengan tegas sekali Allah menerangkan bahwa orang-orang yang memanggil Nabi supaya keluar kamar istrinya yang ada di samping masjid Madinah, kebanyakan mereka itu bodoh tidak mengetahui kesopanan dan tata krama dalam mengadakan kunjungan kehormatan kepada seorang Kepala Negara apalagi seorang Nabi yang pada abad akhir ini dikenal sebagai protokoler dan security (keamanan).

Agama Islam sejak dahulu kala sudah mengatur kode etiknya dengan maksud memberikan penghormatan yang pantas kepada pembesar yang dikunjungi.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

("Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar) yakni dari luar kamar istri-istrinya. Lafal Hujuraat bentuk jamak dari lafal Hujratun, yang artinya; sepetak tanah yang dikelilingi oleh tembok atau lainnya, yang digunakan sebagai tempat tinggal. Masing-masing di antara mereka memanggil Nabi saw. dari belakang kamar-kamarnya, karena mereka tidak mengetahui di kamar manakah Nabi saw. berada. Mereka memanggilnya dengan suara yang biasa dilakukan oleh orang-orang Arab Badui, yaitu dengan suara yang keras dan kasar (kebanyakan mereka tidak mengerti) tentang apa yang harus mereka kerjakan di dalam menghadapi kedudukanmu yang tinggi, dan sikap penghormatan manakah yang pantas mereka lakukan untukmu.
««•»»
The following was revealed regarding a group of people who came to see the Prophet (s) during the midday [resting] period while he was in his house, and called out to him: Truly those who call you from behind the apartments, the [private] chambers of his womenfolk (hujurāt is the plural of hujra, which is an area of ground on which stones are laid [yuhjaru ‘alayhi] to form a wall or the like), and it happened that each one of them called out, in that rough and crude Bedouin manner, from behind one of the apartments, as they did not know in which apartment he was, most of them do not understand, given the way in which they acted, your exalted status and the reverence that befits it.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
klik ASBABUN NUZUL klik
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

Imam Bukhari dari lain-lainnya mengetengahkan sebuah hadis melalui jalur Ibnu Juraij yang bersumber dari Ibnu Abu Mulaikah, bahwasanya Abdullah bin Zubair menceritakan kepadanya, bahwa pada suatu hari datang menghadap kepada Rasulullah saw. utusan atau delegasi dari Bani Tamim, Abu Bakar berkata, "Jadikanlah Qa'qa' bin Ma'bad sebagai amir atas kaumnya." Umar mengusulkan "Tidak, tetapi jadikanlah Aqra' bin Habis sebagai amirnya." Abu Bakar berkata, "Kamu tidak lain hanyalah ingin berselisih denganku." Umar menjawab, "Aku tidak bermaksud untuk berselisih denganmu." Akhirnya keduanya saling berbantah-bantahan sehingga suara mereka berdua makin keras karena saling berselisih.

Lalu turunlah berkenaan dengan peristiwa itu firman-Nya,
"Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian mendahului di hadapan Allah dan Rasul-Nya..."
(QS. Al Hujuraat [49]:1)
sampai dengan firman-Nya,
"Dan kalau sekiranya mereka bersabar..."
(QS. Al Hujuraat [49]:5).
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
[AYAT 3][AYAT 5]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
4of18
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=49&tAyahNo=4&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#49:4

[049] Al Hujurat Ayat 003

««•»»
Surah Al Hujuraat 3

إِنَّ الَّذِينَ يَغُضُّونَ أَصْوَاتَهُمْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ أُولَئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَى لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ
««•»»
inna alladziina yaghudhdhuuna ashwaatahum 'inda rasuuli allaahi ulaa-ika alladziina imtahana allaahu quluubahum lilttaqwaa lahum maghfiratun wa-ajrun 'azhiimun
««•»»
Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.
««•»»
Indeed those who lower their voices in the presence of the Apostle of Allah —they are the ones whose hearts Allah has tested for Godwariness. For them will be forgiveness and a great reward.
««•»»

Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah saw. setelah melatih diri dengan berbagai latihan yang ketat lagi berat, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hatinya oleh Allah untuk bertakwa. Mereka telah berhasil menyucikan diri mereka dengar berbagai usaha dan kesadaran dan bagi mereka ampunan dan pahala yang sangat besar.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Mujahid bahwa ada sebuah pertanyaan tertulis yang disampaikan kepada Umar: "Wahai Amirul Mukminin, ada seorang laki-laki yang tidak suka akan kemaksiatan dan tidak pula mengerjakannya, dan seorang laki-laki lagi yang hatinya cenderung kepada kemaksiatan, tetapi ia tidak mengerjakannya. Manakah di antara kedua orang itu yang paling baik?"

Umar menjawab dengan tulisan lagi, "Sesungguhnya orang-orang yang hatinya cenderung kepada kemaksiatan akan tetapi tidak mengerjakannya, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar".

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

("Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah, mereka itulah orang-orang yang telah diuji) dicoba (hati mereka oleh Allah untuk bertakwa) artinya, ujian untuk menampakkan ketakwaan mereka. (Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar") yakni surga. Ayat berikutnya diturunkan berkenaan dengan orang-orang yang datang di waktu tengah hari kepada Nabi saw. sedangkan Nabi saw. pada saat itu berada di dalam rumahnya, lalu mereka memanggil-manggilnya, yaitu firman-Nya:
(QS. Al Hujuraat [49]:4).
««•»»
The following was revealed regarding those who used to lower their voices in the presence of the Prophet (s), such as Abū Bakr, ‘Umar and others, may God be pleased with [all of] them: Truly those who lower their voices in the presence of God’s Messenger — they are the ones whose hearts God has tested for God-fearing, that is to say, [He has tested them] so that this [fear of God] may manifest itself in them. For them will be forgiveness and a great reward: Paradise.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
klik ASBABUN NUZUL klik
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

Imam Bukhari dari lain-lainnya mengetengahkan sebuah hadis melalui jalur Ibnu Juraij yang bersumber dari Ibnu Abu Mulaikah, bahwasanya Abdullah bin Zubair menceritakan kepadanya, bahwa pada suatu hari datang menghadap kepada Rasulullah saw. utusan atau delegasi dari Bani Tamim, Abu Bakar berkata, "Jadikanlah Qa'qa' bin Ma'bad sebagai amir atas kaumnya." Umar mengusulkan "Tidak, tetapi jadikanlah Aqra' bin Habis sebagai amirnya." Abu Bakar berkata, "Kamu tidak lain hanyalah ingin berselisih denganku." Umar menjawab, "Aku tidak bermaksud untuk berselisih denganmu." Akhirnya keduanya saling berbantah-bantahan sehingga suara mereka berdua makin keras karena saling berselisih.

Lalu turunlah berkenaan dengan peristiwa itu firman-Nya,
"Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian mendahului di hadapan Allah dan Rasul-Nya..."
(QS. Al Hujuraat [49]:1).
sampai dengan firman-Nya,
"Dan kalau sekiranya mereka bersabar..."
(QS. Al Hujuraat [49]:5).

Imam Thabrani dan Imam Abu Ya'la mengetengahkan sebuah hadis dengan sanad yang Hasan melalui Zaid bin Arqam r.a. yang menceritakan, bahwa ada segolongan orang-orang Arab Badui datang ke kamar-kamar Nabi saw. lalu mereka memanggil-manggilnya, "Hai Muhammad! Hai Muhammad!" Lalu Allah swt. menurunkan firman-Nya, "Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar-kamar(mu)..."
(QS. Al Hujuraat [49]:4).

Abdur Razzaq telah menceritakan sebuah hadis melalui Muammar yang bersumber dari Qatadah, bahwa ada seorang laki-laki datang menghadap kepada Nabi saw. lalu laki-laki itu berkata, "Hai Muhammad! Sesungguhnya pujianku indah, dan cacianku sangat pedas." Maka Nabi saw. berkata, "Demikian pulalah Allah", lalu turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya, "Sesungguhnya orang-orang memanggilmu..."
(QS. Al Hujuraat [49]:4).

Lalu dikirimkan kepadanya beberapa Syahid yang berpredikat Mursal bersumber dari hadis Barra dan lain-lainnya. Hadis yang dijadikan Syahid itu diketengahkan oleh Imam Tirmizi hanya di dalamnya tidak tertera konteks 'lalu turunlah ayat ini'. Hadis serupa diketengahkan pula oleh Ibnu Jarir melalui Hasan. Imam Ahmad mengetengahkan sebuah hadis dengan sanad yang sahih melalui Aqra' bin Habis, bahwasanya lelaki tersebut memanggil-manggil Rasulullah saw. dari belakang kamar-kamarnya, akan tetapi Rasulullah saw. tidak menyahut panggilannya. Lalu lelaki itu berkata, "Hai Muhammad! Sesungguhnya pujianku amat indah dan cacianku amat pedas."

Maka Rasulullah saw. menjawab,
"Demikianlah (pula) Allah."
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
[AYAT 2][AYAT 4]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
3of18
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=49&tAyahNo=3&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2
http://al-quran.info/#49:3

[049] Al Hujurat Ayat 002

««•»»
Surah Al Hujuraat 2

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ
««•»»
yaa ayyuhaa alladziina aamanuu laa tarfa'uu ashwaatakum fawqa shawti alnnabiyyi walaa tajharuu lahu bialqawli kajahri ba'dhikum liba'dhin an tahbatha a'maalukum wa-antum laa tasy'uruuna
««•»»
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu {1409}, sedangkan kamu tidak menyadari.
{1409} Meninggikan suara lebih dari suara Nabi atau bicara keras terhadap Nabi adalah suatu perbuatan yang menyakiti Nabi. karena itu terlarang melakukannya dan menyebabkan hapusnya amal perbuatan.
««•»»
O you who have faith! Do not raise your voices above the voice of the Prophet, and do not speak aloud to him as you shout to one another, lest your works should fail without your being aware.
««•»»

Dalam ayat ini, Allah SWT. mengajarkan kepada kaum Mukminin kesopanan jenis kedua yaitu sopan dalam percakapan ketika berhadapan dengan Nabi Muhammad saw. Allah SWT melarang kaum Mukminin meninggikan suara mereka lebih dari suara Nabi. Mereka dilarang untuk berkata-kata kepada Nabi dengan suara keras sebagaimana kerasnya suara mereka sendiri karena perbuatan seperti itu tidak layak menurut kesopanan dan dapat menyinggung perasaan Nabi sendiri.

Terutama jika dalam ucapan-ucapan yang tidak sopan itu tersimpan unsur-unsur cemoohan atau penghinaan yang menyakitkan hati Nabi dan dapat menyeret dan menjerumuskan orangnya kepada kekafiran, yang mengakibatkan hapus dan gugurnya semua pahala amal kebaikannya di masa yang lampau, padahal semuanya itu terjadi tanpa disadarinya.

Ayat ini mengandung peringatan pula antara lain para pembuat lelucon profesional jika sedang mengadakan lawakan untuk membuat tertawa para penonton agar dalam mengemukakan humor-humornya jangan sekali-sekali menyinggung kehormatan agama atau ajarannya yang dapat menjerumuskan mereka secara tidak sadar ke dalam jurang kemurtadan, dan dengan demikian menyebabkan hapus dan gugurnya segala pahala kebaikan mereka di masa lampau.

Diriwayatkan oleh Bukhari dari Ibnu Abi Mulaikah bahwa Abdullah bin Zubair memberitahukan kepadanya bahwa telah datang satu rombongan dari Kabilah Bani Tamim kepada Rasulullah saw. Berkatalah Abu Bakar: "Rombongan ini hendaknya diketuai oleh Qa'qa' bin Ma'bad". Umar Ibnu Khattab berkata: "Hendaknya diketuai oleh Al-Aqra' Ibnu Habis". Abu Bakar membantah, "Kamu tidak bermaksud lain kecuali menentang aku". Umar menjawab: "Saya tidak bermaksud menentangmu".

Maka timbullah perbedaan pendapat antara Abu Bakar dan Umar sehingga suara mereka kedengarannya bertambah keras, maka turunlah ayat ini. Sejak itu, Abu Bakar bila berkata-kata kepada Nabi Muhammad saw., suaranya direndahkan sekali seperti bisikan saja, demikian pula Umar. Oleh karena sangat halus suaranya hampir-hampir tak terdengar sehingga sering ditanyakan lagi apa yang diucapkannya itu.

Mereka sama-sama memahami bahwa ayat-ayat tersebut sengaja diturunkan untuk memelihara kehormatan Nabi Muhammad saw. Dan setelah turun ayat ini, maka sabit bin Qais tidak pernah datang lagi menghadiri majelis Rasulullah saw., dan ketika ditanya oleh Nabi tentang sebabnya ia tidak lagi menghadiri majelis taklimnya, Sabit menjawab: "Ya Rasulullah, telah diturunkan ayat ini dan saya adalah seorang yang selalu berbicara keras dan nyaring. Saya merasa khawatir kalau-kalau pahala saya akan hapus sebagai akibat kebiasaan saya itu".

Dijawab oleh Nabi Muhammad saw:
"Engkau lain sekali, engkau hidup dalam kebaikan dan Insya-Allah akan mati dalam kebaikan pula; engkau termasuk ahli surga". Sabit menjawab: "Aku sangat senang gembira oleh berita yang menggembirakan itu, dan saya tidak akan mengeraskan suara saya terhadap Nabi untuk selama-lamanya".
Maka turunlah ayat ini.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

("Hai orang-orang beriman janganlah kalian meninggikan suara kalian) bila kalian berbicara (lebih dari suara Nabi) bila ia berbicara (dan janganlah kalian berkata kepadanya dengan suara keras) bila kalian berbicara dengannya (sebagaimana kerasnya suara sebagian kalian terhadap sebagian yang lain) tetapi rendahkanlah suara kalian di bawah suaranya demi untuk menghormati dan mengagungkannya (supaya tidak dihapus pahala amal kalian sedangkan kalian tidak menyadarinya") maksudnya, takutlah kalian akan hal tersebut disebabkan suara kalian yang tinggi dan keras di hadapannya.

Ayat berikutnya diturunkan berkenaan dengan orang-orang yang merendahkan suaranya di hadapan Nabi saw. seperti Abu Bakar, Umar dan para sahabat lainnya, yaitu firman-Nya di (QS. Al Hujuraat [49]:2).

««•»»
The following was revealed regarding those who raised their voices in the presence of the Prophet (s): O you who believe, do not raise your voices — when you [want to] speak — above the voice of the Prophet, when he is speaking, and do not shout words at him, when you [wish to] confide in him, as you shout to one another, but [speak] lower than that, out of reverence for him, lest your works should be invalidated without your being aware, that is to say, for fear of this [happening] as a result of the raising of voices and the shouting mentioned.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»klik ASBABUN NUZUL klik
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

Imam Bukhari dari lain-lainnya mengetengahkan sebuah hadis melalui jalur Ibnu Juraij yang bersumber dari Ibnu Abu Mulaikah, bahwasanya Abdullah bin Zubair menceritakan kepadanya, bahwa pada suatu hari datang menghadap kepada Rasulullah saw. utusan atau delegasi dari Bani Tamim, Abu Bakar berkata, "Jadikanlah Qa'qa' bin Ma'bad sebagai amir atas kaumnya." Umar mengusulkan "Tidak, tetapi jadikanlah Aqra' bin Habis sebagai amirnya." Abu Bakar berkata, "Kamu tidak lain hanyalah ingin berselisih denganku." Umar menjawab, "Aku tidak bermaksud untuk berselisih denganmu." Akhirnya keduanya saling berbantah-bantahan sehingga suara mereka berdua makin keras karena saling berselisih.

Lalu turunlah berkenaan dengan peristiwa itu firman-Nya,
"Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian mendahului di hadapan Allah dan Rasul-Nya..."
(QS. Al Hujurat [49]:1)
sampai dengan firman-Nya,
"Dan kalau sekiranya mereka bersabar..."
(QS. Al Hujurat [49]:5)

Ibnu Jarir mengetengahkan pula hadis lainnya melalui Muhammad bin Tsabit bin Qais bin Syammas yang menceritakan, bahwa ketika ayat ini diturunkan,
yaitu firman-Nya,
"Janganlah kalian meninggikan suara kalian lebih dari suara nabi."
(QS. Al Hujurat [49]:2)

Maka Tsabit bin Qais duduk di jalan seraya menangis. Pada saat itu lewat Ashim bin Addi bin Ajlan menemuinya; lalu Ashim bertanya kepadanya, "Apakah yang menyebabkan kamu menangis?" Tsabit menjawab, "Ayat ini membuat aku takut karena aku khawatir seandainya itu diturunkan berkenaan dengan diriku, sedangkan aku adalah orang yang keras suaranya."

Maka Ashim melaporkan hal tersebut kepada Rasulullah saw., lalu Rasulullah saw. memanggilnya dan berkata kepadanya,

"Tidakkah kamu rela bila kamu hidup dalam keadaan terpuji dan gugur sebagai syuhada, serta masuk surga?"

Lalu Tsabit menjawab, "Saya rela, dan saya berjanji tidak akan mengangkat suaraku lebih dari suaramu, wahai Rasulullah, untuk selama-lamanya."

Maka Allah menurunkan firman-Nya,
"Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya..."
(QS. Al Hujurat [49]:3)
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
[AYAT 1][AYAT 3]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
2of18
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=49&tAyahNo=2&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#49:2

[049] Al Hujurat Ayat 001

««•»»
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
««•»»
bismi allaahi alrrahmaani alrrahiimi
««•»»
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

««•»»
In the Name of Allah, the All-beneficent, the All-merciful.

««•»»

Surah Al Hujuraat 1

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
««•»»
yaa ayyuhaa alladziina aamanuu laa tuqaddimuu bayna yadayi allaahi warasuulihi waittaquu allaaha inna allaaha samii'un 'aliimun
««•»»
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya
{1408} dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
{1408} Maksudnya orang-orang mukmin tidak boleh menetapkan sesuatu hukum, sebelum ada ketetapan dari Allah dan RasulNya.
««•»»
O you who have faith! Do not venture ahead of Allah and His Apostle, and be wary of Allah. Indeed Allah is all-hearing, all-knowing.
««•»»

Di ayat ini, Allah SWT mengajarkan kesopanan kepada kaum muslimin ketika berhadapan dengan Rasulullah saw. dengan dua cara: pertama, dalam perbuatan, dan kedua, dalam hal percakapan. Mengenai yang pertama, Allah SWT memperingatkan kaum mukminin supaya jangan mendahului Allah dan Rasul-Nya dalam menentukan suatu hukum atau pendapat.

Mereka dilarang memutuskan suatu perkara sebelum membahas dan meneliti lebih dahulu hukum Allah dan (atau) ketentuan dari Rasul-Nya terhadap masalah itu supaya keputusan mereka jangan menyalahi apalagi bertentangan dengan syariat Islam, sehingga dapat menimbulkan kemurkaan Allah.

Yang demikian ini sejalan dengan yang dialami oleh sahabat Nabi Muhammad saw yaitu Muaz bin Jabal ketika akan diutus ke negeri Yaman.

Rasulullah saw bertanya:
"Kamu akan memberi keputusan dengan apa?".

Dijawab oleh Muaz: "Dengan kitab Allah".

Nabi bertanya lagi:
"Jika tidak kamu jumpai dalam kitab Allah, bagaimana?".

Muaz menjawab: "Dengan Sunah Rasulullah".

Nabi Muhammad saw bertanya lagi:
"Jika dalam Sunah Rasulullah tidak kamu jumpai, bagaimana?".

Muaz menjawab: "Aku akan ijtihad dengan pikiranku".

Lalu Nabi Muhammad saw menepuk dada Muaz seraya berkata:
"Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufik kepada utusan Rasul-Nya tentang apa yang diridai Allah dan Rasul-Nya".


Dalam ayat ini, Allah SWT memerintahkan kepada kaum mukminin supaya melaksanakan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya dan supaya jangan tergesa-gesa melakukan perbuatan atau mengemukakan pendapat dengan mendahului Alquran dan hadis Nabi, yang ada hubungannya dengan sebab turunnya ayat ini. Tersebut dalam kitab Al-Iklil bahwa mereka dilarang menyembelih korban pada hari Raya Idul-Adha sebelum Nabi menyembelih, dan dilarang berpuasa pada hari yang diragukan.

Kemudian Allah SWT. memerintahkan supaya mereka tetap bertakwa kepada-Nya karena Allah Maha Mendengar segala percakapan dan Maha Mengetahui segala yang terkandung dalam hati hamba-hamba-Nya.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului) berasal dari lafal Qadima yang maknanya sama dengan lafal Taqaddama artinya, janganlah kalian mendahului baik melalui perkataan atau perbuatan kalian (di hadapan Allah dan Rasul-Nya) yang menyampaikan wahyu dari-Nya, makna yang dimaksud ialah janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya tanpa izin dari keduanya (dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar) semua perkataan kalian (lagi Maha Mengetahui) semua perbuatan kalian. Ayat ini diturunkan berkenaan dengan perdebatan antara Abu Bakar r.a., dan sahabat Umar r.a. Mereka berdua melakukan perdebatan di hadapan Nabi saw. mengenai pengangkatan Aqra` bin Habis atau Qa`qa` bin Ma`bad. Ayat selanjutnya diturunkan berkenaan dengan orang yang mengangkat suaranya keras-keras di hadapan Nabi saw. yaitu firman-Nya:
(QS. Al Hujaraat [49]:2)

««•»»
O you who believe, do not venture ahead of (tuqaddimū, [derives] from qaddama, with the sense of [the 5th form] taqaddama), that is to say, do not come forward with any [unwarranted] saying or deed [ahead of], God and His Messenger, the one communicating [the Message] from Him, that is to say, without their permission, and fear God. Surely God is Hearer, of your sayings, Knower, of your deeds: this was revealed regarding the dispute between Abū Bakr and ‘Umar, may God be pleased with them both, in the presence of the Prophet (s), over the appointment of al-Aqra‘ b. Hābis or al-Qa‘qā‘ b. Ma‘bad as commander [of his tribe].

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

klik ASBABUN NUZUL klik
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

Imam Bukhari dari lain-lainnya mengetengahkan sebuah hadis melalui jalur Ibnu Juraij yang bersumber dari Ibnu Abu Mulaikah, bahwasanya Abdullah bin Zubair menceritakan kepadanya, bahwa pada suatu hari datang menghadap kepada Rasulullah saw. utusan atau delegasi dari Bani Tamim, Abu Bakar berkata, "Jadikanlah Qa'qa' bin Ma'bad sebagai amir atas kaumnya." Umar mengusulkan "Tidak, tetapi jadikanlah Aqra' bin Habis sebagai amirnya." Abu Bakar berkata, "Kamu tidak lain hanyalah ingin berselisih denganku." Umar menjawab, "Aku tidak bermaksud untuk berselisih denganmu." Akhirnya keduanya saling berbantah-bantahan sehingga suara mereka berdua makin keras karena saling berselisih.

Lalu turunlah berkenaan dengan peristiwa itu firman-Nya,
"Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian mendahului di hadapan Allah dan Rasul-Nya..."
(QS. Al Hujaraat [49]:1)

 sampai dengan firman-Nya,
"Dan kalau sekiranya mereka bersabar..."
(QS. Al Hujaraat [49]:5).

Ibnu Jarir mengetengahkan pula hadis lainnya yang juga melalui Qatadah, bahwa para sahabat selalu mengeraskan suaranya kepada Rasulullah saw. bila berbicara dengannya, maka Allah swt. segera menurunkan firman-Nya, "Janganlah kalian meninggikan suara kalian ..."
(QS. Al Hujaraat [49]:2).
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
[AYAT 2]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
1of18
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=49&tAyahNo=1&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#49:1