Sabtu, 25 April 2015

[049] Al Hujurat Ayat 004

««•»»
Surah Al Hujuraat 4

إِنَّ الَّذِينَ يُنَادُونَكَ مِنْ وَرَاءِ الْحُجُرَاتِ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ
««•»»
inna alladziina yunaaduunaka min waraa-i alhujuraati aktsaruhum laa ya'qiluuna
««•»»
Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar(mu) kebanyakan mereka tidak mengerti.
««•»»
Indeed those who call you from behind the apartments, most of them do not apply reason.
««•»»

Dalam ayat ini Allah SWT. memberikan pelajaran kesopanan dan tata krama dalam menghadapi Rasulullah saw. terutama dalam mengadakan percakapan dengan beliau. Rasulullah saw. selama di Madinah tinggal di sebuah rumah di samping mesjid Madinah. Dalam rumah itu terdapat beberapa buah kamar. Kamar-kamar itu, yang Sesuai dengan kalimat Hujurat, semuanya ada sembilan buah dan masing-masing diisi oleh seorang istri Nabi. Dibuatnya sangat sederhana; atapnya rendah sekali sehingga mudah disentuh oleh tangan dan pintu-pintunya terdiri dari gantungan kulit binatang yang berbulu. Pada masa Khalifah Al Walid bin Abdul Malik, kamar-kamar itu dibongkar dan dimasukkan ke dalam mesjid: hal itu sangat menyedihkan kaum mukminin di Madinah, malah Said bin Musayyab berkata demikian, "Saya suka sekali jika kamar-kamar istri Nabi itu tetap saja tidak dirombak, agar supaya generasi baru dari penduduk Madinah dan orang-orang mendatang dapat mengambil teladan tentang kesederhanaan Nabi Muhammad saw. dalam mengatur rumah tangganya.

Ibnu Ishak menerangkan dalam kitab tarikhnya bahwa tahun kesembilan hijrah itu merupakan tahun mengalirnya para delegasi dari seluruh jazirah Arab setelah futuh Mekah, selesainya perang Tabuk dan Kabilah Saqif dari Taif masuk Islam dan berbaiat kepada Rasulullah saw., maka datanglah dengan berduyun-duyun berbagai delegasi ke Madinah untuk menemui Rasulullah saw.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari zaid bin Arqam bahwa sekumpulan orang-orang Badui berkata kepada kawan-kawannya: "Marilah kita menemui laki-laki (Muhammad) itu; apabila ia benar-benar seorang Nabi, maka kitalah yang paling bahagia beserta dia, dan jika ia seorang raja maka kitapun akan beruntung dapat hidup di sampingnya".

Maka datanglah Zaid bin Arqam kepada Rasulullah saw. menyampaikan berita itu lalu datanglah mereka beramai-ramai kepada Rasulullah saw. yang kebetulan sedang berada di kamar salah seorang istrinya. Mereka memanggil dengan suara yang lantang sekali, "Ya Muhammad, ya Muhammad keluarlah dari kamarmu untuk berjumpa dengan kami karena tujuan kami sangat indah dan celaan kami sangat menusuk perasaan". Nabi Muhammad saw. keluar dari kamar istrinya untuk menemui mereka dan turunlah ayat ini. Menurut Qatadah, rombongan sebanyak tujuh puluh orang itu adalah dari kabilah Bani Tamim.

Mereka berkata, "Kami ini dari Bani Tamim, kami datang ke sini membawa pujangga-pujangga kami dalam bidang syair dan pidato untuk bertanding dengan penyair-penyair. kamu". Dijawab oleh Nabi, "Kami tidak diutus untuk mengemukakan syair dan kami tidak diutus untuk memperlihatkan kesombongan, tetapi bila kamu mau mencoba, boleh kemukakan syairmu itu". Maka tampillah seorang pemuda dari antara mereka membangga-banggakan kaumnya dengan berbagai keutamaan.

Nabi Muhammad saw. menampilkan Hassan bin Sabit untuk menjawab syair mereka dan ternyata Hassan dapat menundukkan mereka semuanya. Setelah mereka mengakui keunggulan Sabit, lalu mereka mendekati Rasulullah saw. dan mengucapkan dua kalimat syahadat dan sekaligus masuk Islam.

Kebijaksanaan Nabi Muhammad saw dalam menghadapi delegasi dari Bani Tamim yang tidak sopan itu akhirnya berkesudahan dengan baik dan sebelum pulang ke negeri mereka, mereka lebih dahulu sudah mendapat petunjuk tentang jalan yang benar dan kesopanan dalam pergaulan. Dengan tegas sekali Allah menerangkan bahwa orang-orang yang memanggil Nabi supaya keluar kamar istrinya yang ada di samping masjid Madinah, kebanyakan mereka itu bodoh tidak mengetahui kesopanan dan tata krama dalam mengadakan kunjungan kehormatan kepada seorang Kepala Negara apalagi seorang Nabi yang pada abad akhir ini dikenal sebagai protokoler dan security (keamanan).

Agama Islam sejak dahulu kala sudah mengatur kode etiknya dengan maksud memberikan penghormatan yang pantas kepada pembesar yang dikunjungi.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

("Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar) yakni dari luar kamar istri-istrinya. Lafal Hujuraat bentuk jamak dari lafal Hujratun, yang artinya; sepetak tanah yang dikelilingi oleh tembok atau lainnya, yang digunakan sebagai tempat tinggal. Masing-masing di antara mereka memanggil Nabi saw. dari belakang kamar-kamarnya, karena mereka tidak mengetahui di kamar manakah Nabi saw. berada. Mereka memanggilnya dengan suara yang biasa dilakukan oleh orang-orang Arab Badui, yaitu dengan suara yang keras dan kasar (kebanyakan mereka tidak mengerti) tentang apa yang harus mereka kerjakan di dalam menghadapi kedudukanmu yang tinggi, dan sikap penghormatan manakah yang pantas mereka lakukan untukmu.
««•»»
The following was revealed regarding a group of people who came to see the Prophet (s) during the midday [resting] period while he was in his house, and called out to him: Truly those who call you from behind the apartments, the [private] chambers of his womenfolk (hujurāt is the plural of hujra, which is an area of ground on which stones are laid [yuhjaru ‘alayhi] to form a wall or the like), and it happened that each one of them called out, in that rough and crude Bedouin manner, from behind one of the apartments, as they did not know in which apartment he was, most of them do not understand, given the way in which they acted, your exalted status and the reverence that befits it.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
klik ASBABUN NUZUL klik
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

Imam Bukhari dari lain-lainnya mengetengahkan sebuah hadis melalui jalur Ibnu Juraij yang bersumber dari Ibnu Abu Mulaikah, bahwasanya Abdullah bin Zubair menceritakan kepadanya, bahwa pada suatu hari datang menghadap kepada Rasulullah saw. utusan atau delegasi dari Bani Tamim, Abu Bakar berkata, "Jadikanlah Qa'qa' bin Ma'bad sebagai amir atas kaumnya." Umar mengusulkan "Tidak, tetapi jadikanlah Aqra' bin Habis sebagai amirnya." Abu Bakar berkata, "Kamu tidak lain hanyalah ingin berselisih denganku." Umar menjawab, "Aku tidak bermaksud untuk berselisih denganmu." Akhirnya keduanya saling berbantah-bantahan sehingga suara mereka berdua makin keras karena saling berselisih.

Lalu turunlah berkenaan dengan peristiwa itu firman-Nya,
"Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian mendahului di hadapan Allah dan Rasul-Nya..."
(QS. Al Hujuraat [49]:1)
sampai dengan firman-Nya,
"Dan kalau sekiranya mereka bersabar..."
(QS. Al Hujuraat [49]:5).
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
[AYAT 3][AYAT 5]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
4of18
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=49&tAyahNo=4&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#49:4

Tidak ada komentar:

Posting Komentar